{jnew}{/jnew}{cbavatar}yudhie{/cbavatar}
Tirta. Ya, Tirta. Sebuah nama yang cocok untukku. Aku hanyalah sebutir air yang tak mampu mengukir takdir. Lemah dan tidak berguna. Setidaknya itulah penilaianku. Tidak tahu pendapat yang lain. Aku takut sekali jika ada yang menganggapku sebagai pembawa bencana.
Aku dilahirkan bersama teman-temanku di tempat yang biru. Berpayung dedaunan, berdinding bebatuan dan beralas kerikil yang kian terukir. Waktu yang deras mengalir tiadalah berarti, maka hanya kuhabiskan dengan menyisir pasir atau merajut rumput disekitar kami. Tatkala sang mentari datang, kami segera berlindung di balik batu-batu bisu sehingga cahayanya takkan mampu mengambil ke tempat yang tinggi.
Hidup kami damai di tempat ini. Mata air, bunda kami, selalu menjaga dan merawat kami semua. Kecintaannya membuat kami tetap terpelihara.
Hampir tiap hari aku melihat kelahiran adik-adik baruku, dan hampir tiap hari pula aku melihat kepergian kakak-kakakku. Mengalir, entah kemana mereka pergi. Terus terang, aku merasa heran. Mengapa mereka mau meninggalkan tempat yang sebagus ini? Apa sebenarnya yang mereka cari? Apa yang mereka lakukan di luar sana?.
“Tirta, disana kita lebih dibutuhkan. Mengapa kita tetap diam menggenang di sini, padahal banyak yang membutuhkan kehadiran kita”. Itulah jawaban yang selalu terlontar ketika ada kakak-kakak kami yang pergi mengalir.
Mentari dan rembulan tiada bosan silih berganti pertanda bergantinya hari. Satu persatu kakakku telah pergi. Teman sebaya pun tiada kentara lagi. Pikiran mulai kucurahkan. Seandainya aku pergi, bagaimana di sini? Disamping itu, mampukah aku melawan kejamnya mentari yang memaksaku pergi ke tempat yang tinggi? Mampukah aku melawan alam yang katanya kejam?
Kini aku tertua di tempat ini. Rasa bosan mulai hinggap dalam diriku. Akhirnya, bukan karena merasa terpanggil oleh kewajiban tapi hanyalah pelarian akibat keadaan aku pun mengalir meninggalkan mata air.
Baru beberapa mil perjalanan, sudah banyak teman-teman baru yang menyapa. Dengan ramah mereka menghampiri dan melindungi kecemasanku. Terkadang pula mereka membimbing dan memapah jalan-jalanku.
“Kita baru kenal dan jalan kita belum tentu sama, tapi mengapa kalian begitu memperhatikanku?” aku mulai membuka pembicaraan.
“Walaupun jalan kita berbeda, tetapi tujuannya sama. Jadi, sudah sepantasnya kita saling peduli.” Jawab mereka mantap. Suatu jawaban yang memberikan sedikit ketenangan.
“Tidak! Kamu tidak boleh terlena dulu dengan jawaban ini. Ikatan kita masih belum kuat. Mudah sekali untuk dipisahkan. Jadi perkuatlah diri kamu sebelum melangkah lebih jauh!” yang lainnya menyeringai.
Aku hanya diam. Membisu. Lelah juga megalir di parit yang berliku ini.
“Ingat , setelah parit yang kita lalui ini, kamu akan sampai pada jalan yang lebih besar. Sungai. Di sana kamu akan menemukan berbagai macam rintangan.”
“Sungai?” tanyaku kaget, ”bukankah parit ini juga telah cukup melelahkan?”
“Ini belum seberapa teman. Masih banyak jalan yang harus kita tempuh dengan penuh kesabaran dan kekuatan pemahaman tujuan. Tidak sedikit teman-teman kita yang berguguran. Mereka hanya berputar-putar di pinggir sungai atau menggenang di suatu kolam yang sebenarnya hanya merupakan tempat persinggahan sementara. Bukan tujuan!” salah satu diantara mereka menjelaskan.
“Maaf, saya sendiri belum mengerti dengan tujuan yang sesungguhnya. Bukankah dengan menjadikan diri kita mengalir itu sudah cukup?” tanyaku
“Tidak sesederhana itu. Kita juga harus berusaha agar rekan yang lain pun mengalir bersama-sama menuju lautan!“
“Jadi harus bagaimana ?”
| < Prev |
|---|
Digg
Del.icio.us
Netscape
Yahoo
Technorati
Googlize this
Facebook
